Payudara yang terasa lembek saat menyusui kerap membuat ibu khawatir produksi ASI-nya berkurang, terutama jika sebelumnya payudara terasa penuh, berat, dan kencang. Perubahan itu memunculkan pertanyaan apakah ASI yang dihasilkan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi.
Namun, mengutip Babycenter, payudara yang terasa lembek selama menyusui merupakan perubahan yang normal dan tidak selalu menandakan produksi ASI menurun. Kondisi ini sering terjadi ketika tubuh mulai menyesuaikan produksi ASI dengan kebutuhan bayi.
Selain kondisi payudara, perubahan frekuensi menyusu, jumlah ASI yang keluar saat dipompa, hingga perilaku bayi juga bisa membuat ibu merasa produksi ASI berkurang. Padahal, sejumlah kondisi tersebut merupakan bagian dari proses menyusui yang normal.
Payudara lembek dan kenaikan kebutuhan bayi
Ibu mungkin cemas ketika bayi tiba-tiba ingin menyusu lebih sering daripada biasanya. Menurut sumber yang sama, hal itu tidak berarti bayi tidak mendapatkan ASI yang cukup. Sering kali kondisi tersebut terjadi karena bayi sedang mengalami percepatan pertumbuhan atau growth spurt. Menurut USDA, percepatan pertumbuhan umum terjadi saat bayi berusia 3 minggu, 6 minggu, dan 3 bulan.
Kekhawatiran serupa juga bisa muncul ketika ibu mulai memberikan makanan pendamping ASI atau MPASI, biasanya sekitar usia 4–6 bulan. Pada tahap awal, produksi ASI biasanya belum langsung berkurang karena ketika bayi baru belajar makan, lebih banyak makanan yang menempel di dagu daripada masuk ke dalam perutnya. Seiring bayi semakin mahir makan, kebutuhan ASI berkurang secara bertahap dan produksi ASI menyesuaikan dengan kebutuhan tersebut.
Tanda produksi ASI berkurang
Jika khawatir produksi ASI menurun, ibu sebaiknya tidak hanya mengandalkan kondisi payudara saat diraba. Ada beberapa tanda yang lebih penting untuk diperhatikan.
- Berat badan bayi tidak bertambah atau mulai menurun. Bayi baru lahir umumnya mengalami penurunan berat badan pada beberapa hari pertama setelah lahir. Setelah sekitar lima hari pertama, berat badan bayi umumnya mulai bertambah sekitar 2/3 ons setiap hari, setara dengan sekitar 5–7 ons per minggu dan 1–2 pon per bulan selama empat bulan pertama. Setelah itu, berat badan bertambah sekitar 3/4 ons per hari hingga usia sekitar 6 bulan, lalu melambat menjadi sekitar 1/3 ons per hari.
- Bayi menunjukkan tanda-tanda dehidrasi. Tandanya bisa berupa frekuensi buang air kecil yang lebih jarang, jumlah popok basah yang berkurang, atau urine berwarna lebih gelap. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), bayi baru lahir seharusnya memiliki dua hingga tiga popok basah dalam beberapa hari pertama setelah lahir, kemudian meningkat menjadi enam popok basah atau lebih setiap hari. Pada usia 5–7 hari, urine bayi biasanya sudah hampir tidak berwarna atau berwarna kuning pucat. Kulit dan mulut yang kering serta napas yang cepat juga dapat menjadi tanda dehidrasi.
- Bayi rewel atau tampak lesu. Bayi yang cukup mendapatkan ASI umumnya menunjukkan respons menyusu yang baik, meskipun pola tidur dan tingkat aktivitasnya berbeda-beda. Namun, bayi yang lebih sering rewel, terlihat lemas, atau kesulitan untuk tetap terjaga saat menyusu bisa menjadi tanda produksi ASI mulai berkurang.
- Bayi mengisap payudara tanpa terdengar menelan ASI. Ketika bayi menyusu secara efektif, ibu biasanya dapat melihat atau mendengar gerakan menelan setelah beberapa kali isapan. Jika bayi terus mengisap tetapi jarang menelan, mudah tertidur sebelum menyusu secara efektif, atau kesulitan mempertahankan pelekatan, ada kemungkinan proses pemindahan ASI dari payudara ke bayi belum optimal.
Penyebab produksi ASI menurun secara tiba-tiba
Bila payudara terasa lembek disertai tanda bahwa bayi mungkin tidak mendapatkan cukup ASI, ibu perlu mencari tahu kemungkinan penyebabnya.
- Frekuensi menyusui atau memompa berkurang. Ini merupakan penyebab paling umum. Tubuh memproduksi ASI berdasarkan seberapa sering bayi mengisap payudara. Produksi ASI bisa menurun secara tiba-tiba ketika ibu mulai lebih sering berjauhan dengan bayi atau bayi mulai tidur sepanjang malam tanpa menyusu.
- Stres. Saat menghadapi masalah berat atau kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, tubuh mungkin memproduksi lebih sedikit ASI. Kekhawatiran berlebihan mengenai jumlah ASI yang dihasilkan juga dapat menambah beban pikiran dan memperburuk keadaan.
- Kurang tidur dan kelelahan. Ibu menyusui sering terbangun pada malam hari untuk memberikan ASI. Jika berlangsung terus-menerus, tubuh bisa kelelahan sehingga ibu sulit menjalani rutinitas menyusui atau memompa ASI secara teratur.
- Memberikan susu formula sebagai tambahan. Jika susu formula diberikan tanpa memompa ASI sebagai pengganti sesi menyusui yang terlewat, tubuh dapat menerima sinyal bahwa kebutuhan ASI berkurang.
- Menjalani diet ketat. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), tubuh membutuhkan tambahan sekitar 450–500 kalori per hari untuk menghasilkan ASI. Jika berat badan ibu berada dalam rentang normal, kebutuhan energi totalnya sekitar 2.500 kalori per hari.
- Dehidrasi atau kekurangan cairan. Menurut Academy of Nutrition and Dietetics, ibu menyusui membutuhkan sekitar 16 cangkir cairan per hari. Jumlah ini bisa berasal dari makanan dan berbagai minuman, bukan hanya air putih. Sakit, termasuk flu biasa, juga dapat menyebabkan dehidrasi dan membuat tubuh lemas.
- Konsumsi obat-obatan tertentu. Antihistamin, steroid, dan pseudoefedrin dapat menyebabkan produksi ASI menurun pada sebagian ibu. Beberapa jenis herbal yang dikonsumsi selama menyusui dan pil KB juga dapat memengaruhi produksi ASI. Pengaruhnya bergantung pada jenis, dosis, kondisi ibu, dan tahap menyusui. Ibu diminta tidak menghentikan obat yang diresepkan atau mengganti pengobatan sendiri, serta berkonsultasi dengan dokter atau apoteker.
- Perubahan hormon. Ketika menstruasi kembali setelah melahirkan, produksi ASI mungkin menurun pada fase tertentu dalam siklus menstruasi, biasanya menjelang atau pada awal menstruasi. Pada ibu yang memberikan ASI eksklusif, menstruasi umumnya baru kembali sekitar 3–6 bulan setelah melahirkan atau bahkan lebih lama. Jika menyusui saat hamil, produksi ASI juga mungkin menurun sementara ketika kehamilan memasuki usia sekitar 4 bulan.
- Gangguan tiroid. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang berperan penting dalam proses menyusui. Hipotiroidisme maupun hipertiroidisme dapat mengganggu produksi ASI. Ibu juga mungkin mengalami kesulitan dalam proses pengeluaran ASI atau let-down reflex.
- Masalah pelekatan, saluran ASI tersumbat, atau mastitis. Payudara bengkak akibat penumpukan ASI, saluran ASI tersumbat, dan mastitis atau peradangan payudara dapat memengaruhi produksi ASI. Pelekatan bayi yang kurang baik atau nursing strike yang membuat frekuensi menyusui berkurang juga bisa berdampak.
Cara meningkatkan produksi ASI jika payudara terasa lembek
- Menyusui bayi lebih sering. Produksi ASI bekerja berdasarkan prinsip suplai dan permintaan. Semakin sering ASI dikeluarkan, semakin besar rangsangan bagi tubuh untuk memproduksi ASI. Ibu bisa menambah sesi menyusui, membiarkan bayi menyusu lebih lama jika masih aktif, atau memompa ASI lebih sering.
- Mengonsumsi makanan bergizi dan cukup minum. Ibu sebaiknya mengonsumsi makanan yang bervariasi dan bergizi seimbang, termasuk sumber protein seperti telur, ikan, daging, tahu, dan tempe, serta sayuran, buah, sumber karbohidrat, dan lemak sehat. Kebutuhan cairan dipenuhi sepanjang hari, terutama ketika merasa haus, tanpa memaksakan diri minum berlebihan.
- Mendapatkan dukungan kesehatan mental. Ibu yang mengalami postpartum blues, kecemasan pasca persalinan, atau depresi pasca persalinan dianjurkan berbicara dengan tenaga kesehatan. Dokter mungkin menyarankan konseling, terapi, atau pengobatan sesuai kebutuhan.
- Melakukan kontak kulit ke kulit. Menghabiskan waktu lebih banyak untuk beristirahat bersama bayi, melakukan kontak kulit ke kulit, dan menyusui sesuai keinginan bayi dapat membantu merangsang produksi ASI. Cara ini merupakan upaya pendukung, tetapi tidak menjamin produksi ASI meningkat pada semua ibu.
- Meminta bantuan konsultan laktasi. Konsultan laktasi dapat membantu mengidentifikasi dan mengatasi masalah menyusui, seperti pelekatan bayi yang kurang tepat, sehingga ibu memperoleh panduan untuk meningkatkan efektivitas menyusui.
Sumber: Haibunda