Komisi VIII DPR dan UIN Surakarta Dorong Lingkungan Belajar Humanis di Madrasah

Pendidikan
Komisi VIII DPR dan UIN Surakarta Dorong Lingkungan Belajar Humanis di Madrasah

Komisi VIII DPR bersama Fakultas Tarbiyah UIN Raden Mas Said Surakarta mendorong madrasah inklusif dan humanis lewat dua seminar di Sukoharjo.

Penguatan pendidikan inklusif dan pembangunan ekosistem digital yang aman menjadi perhatian penting dalam upaya mewujudkan lingkungan belajar yang humanis, berkeadilan, dan melindungi peserta didik. Dua hal itu menjadi fokus kegiatan seminar yang digelar Komisi VIII DPR RI bersama Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta.

Kegiatan tersebut menyasar madrasah di Kabupaten Sukoharjo dan sekitarnya. Melalui forum itu, kedua pihak mendorong transformasi madrasah agar mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas sekaligus menjawab kebutuhan peserta didik yang semakin beragam.

Selain pendidikan inklusif, perhatian dalam kegiatan itu diarahkan pada pembangunan ekosistem digital yang aman. Aspek tersebut disebut sebagai bagian dari upaya mewujudkan lingkungan belajar yang humanis, berkeadilan, dan melindungi peserta didik.

Tantangan madrasah di tengah perubahan sosial

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Singgih Januratmoko, menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi madrasah di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi. Menurut dia, madrasah harus terus melakukan pembenahan agar mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas.

ΓÇ£Madrasah harus terus berbenah agar mampu menjawab tantangan zaman. Penguatan kualitas pendidikan harus berjalan seiring dengan perlindungan anak, pemenuhan aksesibilitas, dan penciptaan lingkungan belajar yang inklusif serta humanis,ΓÇ¥ kata Singgih di UIN Raden Mas Said Surakarta, Sabtu (25/10/2026).

Menurut Singgih, pembenahan layanan pendidikan bagi peserta didik yang semakin beragam itu perlu berjalan seiring dengan perlindungan anak, pemenuhan aksesibilitas, serta penciptaan lingkungan belajar yang inklusif dan humanis.

Inklusif bukan sekadar membuka akses

Dalam konteks pendidikan inklusif, madrasah diharapkan tidak sekadar membuka akses pendidikan bagi semua anak. Madrasah juga diminta memastikan setiap peserta didik memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi dan berkembang sesuai dengan potensi serta kebutuhannya.

Untuk mewujudkannya, dibutuhkan dukungan kebijakan, kesiapan tenaga pendidik, fasilitas yang aksesibel, dan budaya pendidikan yang menghargai perbedaan. Lingkungan belajar yang humanis dipandang perlu dibarengi dengan pemenuhan aksesibilitas bagi peserta didik.

Komitmen mengawal kepentingan masyarakat

Singgih juga menegaskan pentingnya komitmen anggota dewan dalam mengawal kepentingan masyarakat, termasuk dalam penguatan pendidikan madrasah. Menurutnya, pendidikan merupakan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia sehingga perlu memperoleh perhatian dan dukungan secara berkelanjutan.

ΓÇ£Komitmen kami adalah terus mengawal kebijakan dan program yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat. Madrasah memiliki peran strategis dalam membentuk generasi masa depan sehingga penguatannya perlu menjadi perhatian bersama,ΓÇ¥ ujar dia.

Dua kegiatan seminar itu menjadi bagian dari dorongan Komisi VIII DPR RI dan Fakultas Tarbiyah UIN Raden Mas Said Surakarta agar madrasah di Kabupaten Sukoharjo dan sekitarnya terus berbenah, seiring dengan perlindungan anak serta terciptanya lingkungan belajar yang inklusif dan humanis.

Sumber: Republika

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy