Trump Sebut Perlu Berhenti Membunuh Pemimpin Iran demi Negosiasi

Trump Sebut Perlu Berhenti Membunuh Pemimpin Iran demi Negosiasi

Internasional

Donald Trump menyebut dirinya harus berhenti membunuh pemimpin Iran agar tahu dengan siapa AS bernegosiasi, dan menegaskan Iran tak boleh punya nuklir.

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa dirinya harus berhenti membunuh para pemimpin Iran. Menurut Trump, hal itu perlu dilakukan agar Amerika Serikat mengetahui dengan siapa sebenarnya mereka bernegosiasi.

Pernyataan itu disampaikan Trump dalam sebuah kampanye di Georgia pada Sabtu waktu setempat. Dalam kesempatan tersebut, ia kembali menegaskan pendiriannya bahwa Iran tidak boleh dibiarkan mengembangkan senjata nuklir.

Alasan berhenti membunuh pemimpin Iran

Trump menuturkan, penghentian itu diperlukan untuk memperoleh kejelasan mengenai pihak yang menjadi lawan bicara Amerika Serikat dalam perundingan. Ia menyampaikan hal tersebut secara langsung dalam kampanyenya.

"Saya harus berhenti [membunuh para pemimpin Iran]. Karena saya harus mencari tahu dengan siapa sebenarnya kita bernegosiasi," ujar Trump.

Klaim soal kondisi militer Iran

Dalam kesempatan yang sama, Trump menguraikan pandangannya mengenai kondisi militer Iran. Ia menyebut Iran tidak lagi memiliki pesawat, kapal, maupun pemimpin.

"Mereka tidak punya pesawat, tidak punya kapal, tidak punya apa-apa, tidak punya pemimpin. Pemimpin tingkat satu sudah tidak ada, pemimpin tingkat dua juga sudah tidak ada," imbuh dia.

Ucapan itu mengulangi klaim Trump bahwa militer dan kepemimpinan Iran telah dihancurkan oleh Amerika Serikat.

Pembelaan mengakhiri JCPOA

Trump juga membela keputusannya pada tahun 2018 untuk mengakhiri perjanjian nuklir Iran tahun 2015. Kesepakatan yang dicapai pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama itu, menurut Trump, diakhiri pada saat yang krusial untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.

"Saya mengakhiri salah satu kesepakatan terburuk yang pernah dibuat, yaitu Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) milik Barack Hussein ObamaΓÇöatau yang oleh sebagian orang disebut sebagai perjanjian nuklir IranΓÇöyang sebenarnya merupakan jalan bagi Iran untuk mendapatkan senjata nuklir. Untungnya, saya mengakhirinya tepat pada waktunya," ujarnya.

Melalui pernyataan itu, Trump mempertahankan langkah Amerika Serikat keluar dari kesepakatan tersebut dan menegaskan bahwa kebijakan itu diambil untuk menutup jalan Iran menuju senjata nuklir.

Operasi Midnight Hammer dan Epic Fury

Trump juga menyinggung dua operasi militer yang menurutnya melenyapkan kapasitas pengayaan nuklir Iran.

"Kami melenyapkan kapasitas pengayaan nuklir Iran melalui Operation Midnight Hammer dan Operation Epic Fury," kata Trump.

Kedua nama tersebut merujuk pada operasi militer yang dilakukan pada tahun 2025 serta antara bulan Februari hingga Mei tahun ini.

Pernyataan di Georgia itu memuat sejumlah hal yang berulang kali disampaikan Trump mengenai Iran, mulai dari penolakan terhadap pengembangan senjata nuklir, pembelaan atas pengakhiran kesepakatan tahun 2015, hingga klaim mengenai kondisi militer dan kepemimpinan negara tersebut.

Sumber: Sindonews

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy