ProPublica Umumkan Lima Mahasiswa Jurnalis dalam Program Emerging Reporters 2026
PendidikanProgram Emerging Reporters ProPublica 2026 memilih lima mahasiswa jurnalis dari Illinois, Texas, Nebraska, Iowa, dan New York dengan stipend 9.000 dolar.
Kuliah jauh dari rumah sering memicu kecemasan. Lima pelajaran dari pengalaman merantau ini menawarkan sudut pandang menenangkan bagi calon mahasiswa.
Keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sering berbenturan dengan satu kekhawatiran yang sulit diabaikan: kuliah jauh dari rumah. Mimpi mencoba banyak hal dan rasa penasaran menjadi mahasiswa hadir bersamaan dengan ketakutan meninggalkan orang tua, tinggal sendiri di tempat asing, belum memiliki teman, hingga membayangkan hari pertama di kamar kos.
Dalam sebuah surat reflektif yang ditujukan kepada dirinya di masa lalu, seorang mahasiswa perantau mengisahkan bahwa keinginan untuk pergi dan keinginan untuk tetap tinggal di rumah sempat muncul bersamaan. Ia menyebut keputusan merantau bukan perkara mudah, tetapi kemudian menyimpulkan bahwa pengalaman itu memberinya sejumlah pelajaran.
Sebelum berangkat, ia membayangkan kuliah jauh dari rumah sebagai bentuk meninggalkan keluarga. Gambaran tentang tidak bisa makan bersama setiap hari, tidak lagi mendengar suara ibu dari dapur, atau tidak bisa langsung meminta bantuan ayah ketika menghadapi kesulitan membuat langkah itu terasa berat.
Setelah menjalani hidup sebagai mahasiswa perantauan, pemahaman itu berubah. Pergi jauh, tulisnya, bukan berarti berhenti menyayangi rumah. Justru ketika jarak mulai memisahkan, hal-hal kecil seperti telepon singkat dari ibu, pesan pengingat untuk makan, dan kesempatan pulang saat libur semester menjadi sesuatu yang ditunggu.
“Pergi jauh bukan berarti berhenti menyayangi rumah.”
Selama tinggal di rumah, bantuan keluarga tersedia untuk banyak hal, mulai dari makanan yang sudah ada ketika lapar, pengingat mencuci pakaian, hingga urusan membayar tagihan. Kondisi itu berubah ketika ia mulai hidup di perantauan.
Ia harus belajar mengatur uang bulanan, mencuci pakaian, membersihkan kamar kos, membeli kebutuhan sendiri, dan mengelola jadwal kuliah. Awalnya berantakan: uang bulanan bisa habis sebelum waktunya, dan ada hari ketika ia terlalu lelah sehingga tidak sempat memasak dan akhirnya makan seadanya. Dari kebiasaan sederhana itu, ia menilai seseorang akan belajar lebih mandiri dan menyadari kemampuannya melakukan hal-hal yang sebelumnya terasa sulit.
“Kamu akan menyadari bahwa dirimu mampu melakukan banyak hal yang sebelumnya terasa sulit.”
Ketakutan terbesar lainnya adalah tidak punya teman. Ia khawatir harus memulai dari awal, berkenalan dengan orang asing, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sama sekali berbeda.
Kehidupan kuliah kemudian mempertemukannya dengan orang-orang dari berbagai daerah, dari kota besar, desa kecil, hingga pulau yang belum pernah ia kunjungi. Masing-masing membawa kebiasaan, cara bicara, dan cerita kehidupan sendiri. Ada teman yang menjadi tempat bercerita ketika kesulitan, ada yang menemani mengerjakan tugas sampai malam, dan ada pula yang hadir sebentar tetapi meninggalkan kenangan yang masih diingat.
“Rumah juga bisa ditemukan dalam bentuk orang-orang yang membuatmu merasa diterima.”
Ia tidak menjanjikan bahwa semuanya akan menyenangkan. Akan ada malam ketika seseorang tiba-tiba merindukan masakan ibu, atau hari ketika ingin pulang hanya karena lelah menghadapi tugas kuliah. Ada pula kemungkinan menangis diam-diam setelah menelepon orang tua agar mereka tidak khawatir, terutama ketika melihat teman lain bisa pulang setiap akhir pekan sementara dirinya harus menunggu libur panjang.
Menurutnya, semua itu tidak apa-apa. Rindu rumah bukan tanda seseorang tidak bahagia dengan kehidupannya, melainkan tanda bahwa ada tempat dan orang-orang yang berarti. Ia juga mengingatkan agar tidak terlalu keras pada diri sendiri dan tidak merasa harus selalu terlihat kuat hanya karena sedang jauh dari rumah.
“Merindukan rumah hanya tanda bahwa ada tempat dan orang-orang yang begitu berarti bagimu.”
Sebelumnya ia mengira kuliah hanya soal belajar di kelas, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, lalu meraih gelar sarjana. Kenyataannya, ada banyak pelajaran lain yang tidak pernah tercantum dalam silabus.
Ia belajar menghadapi masalah tanpa selalu meminta bantuan orang tua, mengatur keuangan, mengambil keputusan, bertanggung jawab atas pilihan sendiri, dan menerima kenyataan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan. Ia juga belajar bahwa tidak semua orang yang ditemui memiliki niat baik, sehingga kekecewaan, konflik, dan pengalaman tidak menyenangkan harus dihadapi sendiri. Semua itu, tulisnya, perlahan membentuk pribadi yang lebih dewasa.
“Kamu tidak hanya mendapatkan pendidikan, tapi juga kesempatan mengenal dirimu sendiri.”
Pada bagian akhir, ia menyampaikan terima kasih kepada dirinya di masa lalu yang akhirnya berani mencoba. Menurutnya, keputusan kuliah jauh dari rumah menuntut keberanian sebelum akhirnya mengemas barang, berpamitan kepada keluarga, dan memulai kehidupan baru. Kini ia mengaku bersyukur pernah mengambil keputusan itu, meski tidak selalu menjalaninya dengan mudah dan sempat melalui kesalahan serta air mata.
Pesan yang ia tinggalkan sederhana: tidak perlu mengetahui semua jawaban sebelum berangkat dan tidak perlu merasa sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Cukup berani mengambil langkah pertama.
Sumber: Hipwee
Program Emerging Reporters ProPublica 2026 memilih lima mahasiswa jurnalis dari Illinois, Texas, Nebraska, Iowa, dan New York dengan stipend 9.000 dolar.
Hari Jadi ke-68 UMS diwarnai laporan capaian Renstra tahun akademik 2025/2026 dengan rata-rata ketercapaian indikator 113,3 persen dari target.
Tim Ekspedisi Patriot ITS menghadirkan formulir daring Beasiswa ADiK di Manokwari Selatan, Papua Barat, agar pelajar lebih mudah mengakses layanan.
These cookies are essential for the website to function properly.
These cookies help us understand how visitors interact with the website.
These cookies are used to deliver personalized advertisements.