Pria di Jepang Bawa Kabur Tas 22 Juta Yen Usai Tahu Sisa Hidupnya 2-3 Bulan

Pria di Jepang Bawa Kabur Tas 22 Juta Yen Usai Tahu Sisa Hidupnya 2-3 Bulan

Internasional

Seorang pria di Jepang membawa kabur tas berisi 22 juta yen setelah dokter menyebut sisa hidupnya 2-3 bulan. Uangnya dipakai berobat hingga liburan.

Pengadilan Distrik Sendai menggelar sidang pertama perkara penggelapan barang temuan yang menyita perhatian publik Jepang. Seorang pria pengangguran berusia 43 tahun duduk sebagai terdakwa karena membawa kabur tas berisi 22 juta yen, dan sidang perdananya berlangsung pada 19 Oktober.

Peristiwa itu bermula pada Maret tahun ini. Pria tersebut menjalani pemeriksaan di sebuah rumah sakit di Kota Sendai, dan hasilnya menunjukkan kanker yang pernah dideritanya kembali muncul. Dokter menyampaikan bahwa penyakit itu sudah tidak dapat diatasi. "Dengan kanker ini, tubuh tidak akan bertahan. Sisa hidup 2 sampai 3 bulan," kata dokter kepadanya.

Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, ia mengalami kejadian yang tidak terduga. Saat berjalan di depan Stasiun JR Sendai, matanya menangkap sebuah tas yang tergeletak di jalan. Ia sempat melewatinya begitu saja, tetapi rasa penasaran akan isinya membuatnya berbalik arah. Di toilet sebuah taman, ia membuka tas itu dengan pisau cutter dan menemukan uang tunai dalam jumlah besar. Saat itu ia berpikir bahwa uang tersebut adalah "pemberian dari Tuhan".

Dibawa pulang, uang terpakai selama empat setengah bulan

Pria itu lantas membawa tas tersebut ke rumah dan memeriksa isinya secara lebih teliti. Dari pemeriksaan itu ia mengetahui bahwa isinya lebih dari 20 juta yen. Tas tersebut ternyata milik sebuah perusahaan keamanan yang menjatuhkannya ketika sedang mengangkut uang; isi tas itu adalah uang tunai senilai 22 juta yen.

Dalam kurun empat setengah bulan hingga ia ditangkap, sekitar 18 juta yen dari uang tersebut habis dipakai. Menurut keterangannya di persidangan, uang itu antara lain digunakan untuk biaya pengobatan, perjalanan wisata ke Ise dan ke Vietnam, serta untuk membeli makanan.

Kerugian diganti asuransi, cicilan 30.000 yen per bulan

Di persidangan, pria itu menjelaskan bahwa kerugian perusahaan keamanan sebesar 22 juta yen telah diganti oleh pihak asuransi. Ia kemudian mencapai kesepakatan damai dengan perusahaan asuransi untuk mengembalikan uang tersebut dengan cara mencicil 30.000 yen setiap bulan. Hingga sekarang, jumlah yang sudah ia bayarkan baru sekitar 3,44 juta yen, sehingga cicilan itu diperkirakan baru lunas pada 2078.

Jaksa menuntut satu tahun penjara

Jaksa penuntut umum dalam pledoinya menilai perbuatan terdakwa "sangat mementingkan diri sendiri" dan menuntut hukuman penjara selama satu tahun. Sementara itu, penasihat hukum meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman dengan masa percobaan. "Kalau dalam perjalanan pulang setelah menerima vonis sisa hidup ada 22 juta yen tergeletak, tidak mengherankan bila orang berpikir 'apakah Tuhan sedang melihat'," ujar pihak pembela.

Terdakwa mengakui seluruh isi dakwaan yang dibacakan dalam sidang. Karena itu, pokok persoalan yang tersisa di persidangan hanya satu, yakni apakah ia akan dijatuhi hukuman dengan masa percobaan atau tidak. Perkara ini digambarkan sebagai kasus yang agak mirip kisah dongeng, dan publik kini menantikan bagaimana majelis hakim menilai perbuatannya. Putusan dijadwalkan dibacakan pada 6 November.

Kronologi singkat

  • Maret: kanker yang diderita pria itu kembali muncul, dan dokter menyebut sisa hidupnya 2 sampai 3 bulan.
  • Dalam perjalanan pulang, ia menemukan tas berisi uang tunai 22 juta yen milik sebuah perusahaan keamanan.
  • Sekitar 18 juta yen terpakai dalam empat setengah bulan, antara lain untuk biaya pengobatan, wisata ke Ise dan Vietnam, serta makanan.
  • 19 Oktober: sidang pertama digelar di Pengadilan Distrik Sendai.
  • 6 November: putusan dijadwalkan dibacakan.

Sumber: Livedoor News

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy