Der Spiegel Wawancarai 10 Tentara Israel soal Perang Gaza

Der Spiegel Wawancarai 10 Tentara Israel soal Perang Gaza

Internasional

Der Spiegel mewawancarai 10 tentara Israel yang bertugas di Gaza, termasuk David yang mengaku unitnya membunuh banyak orang.

Majalah Jerman Der Spiegel mewawancarai 10 warga Israel yang bertugas di Jalur Gaza setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Mereka bertugas sebagai operator drone yang dikendalikan dari jarak jauh maupun sebagai penentu sasaran serangan udara.

Organisasi Israel Breaking the Silence memfasilitasi kontak dengan sebagian dari mereka. Lembaga itu dikenal mengumpulkan kesaksian tentara mengenai pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan militer. Der Spiegel menyatakan telah memeriksa seluruh pernyataan sebaik mungkin, menyilangkannya dengan kesaksian lain dan informasi yang dapat diverifikasi secara independen, serta menilai pernyataan tersebut kredibel.

Seluruh tentara itu, kecuali satu orang, memilih tetap anonim. Unit dan identitas pribadi mereka juga tidak dapat diungkap karena potensi konsekuensi negatif yang bisa timbul. Sebagian besar dari mereka menolak bertugas lagi di Gaza, meski salah satu di antaranya baru saja dikerahkan kembali ke sana beberapa pekan lalu.

Der Spiegel mencatat gencatan senjata telah berlaku di Gaza selama satu tahun. Meski demikian, militer Israel masih menduduki sekitar dua pertiga wilayah Gaza dan secara rutin menyerang sasaran di wilayah tersebut.

Kesaksian David soal skala kehancuran

Salah satu narasumber, yang disebut dengan nama samaran David, bertugas sebagai reservis di unit infanteri. Ia dikerahkan di Gaza tengah dan Khan Younis selama beberapa bulan sejak Oktober 2023. Dalam kesaksiannya, David mengaku unitnya telah membunuh banyak orang.

Ia mengaku sejak awal sudah menduga perang itu akan berlangsung buruk, tetapi tidak membayangkan seberapa buruk dan seberapa lama. David memperkirakan perang hanya akan berlangsung sebulan.

"Saya tahu sejak awal bahwa perang ini akan buruk. Tapi saya tidak bisa membayangkan seburuk apa. Dan saya juga tidak bisa membayangkan berapa lama ini akan berlangsung. Paling lama sebulan, pikir saya. Bahwa perang ini akan berlangsung bertahun-tahun, itu tampak mustahil," kata David.

David juga menyinggung skala kehancuran yang terjadi. Menurut dia, penghancuran bangunan berlangsung berlapis, dimulai dari bangunan yang dianggap berpotensi menjadi ancaman, lalu berlanjut ke bangunan lain yang tersisa.

"Dari sudut pandang seorang tentara, itu bahkan masuk akal. Apakah sebuah bangunan adalah yang tertinggi di sektor kami? Kami menghancurkannya karena bisa menjadi ancaman. Tapi kemudian bangunan tertinggi berikutnya menjadi yang tertinggi, dan begitu seterusnya sampai semuanya hancur. Awalnya, kami diperintahkan menghancurkan bangunan-bangunan tertentu. Belakangan, kami ditugaskan di satu kawasan penuh," ujarnya.

Kembali ke Gaza pada 2025

David menuturkan pengalamannya ketika kembali ke Gaza pada 2025. Ia menyebut wilayah itu dipenuhi puing bangunan sejauh bermil-mil. Menurut dia, tujuan yang dinyatakan secara resmi saat itu adalah menciptakan zona penyangga.

"Ketika saya kembali ke Gaza pada 2025, tidak ada apa-apa selain puing sejauh bermil-mil. Secara resmi, tujuannya adalah menciptakan zona penyangga. Tapi suatu kali saya mendengar perwira senior mengatakan: Orang-orang Arab harus dihukum. Mereka harus memahami bahwa kami mengambil semakin banyak tanah mereka dan mendorong mereka semakin jauh ke belakang," kata David.

Penolakan bertugas kembali

Kesaksian para tentara itu muncul di tengah kondisi Gaza yang masih dibayangi gencatan senjata. Der Spiegel menyebut militer Israel tetap menduduki sekitar dua pertiga wilayah Gaza dan masih melancarkan serangan terhadap sasaran-sasaran di sana.

Sikap sebagian besar narasumber yang menolak kembali bertugas ke Gaza menjadi salah satu poin yang diangkat dalam laporan tersebut. Meski demikian, satu di antara mereka tetap dikerahkan kembali ke Gaza dalam beberapa pekan terakhir.

Der Spiegel menegaskan bahwa identitas para tentara maupun unit mereka tidak dipublikasikan. Pertimbangannya adalah kemungkinan dampak negatif yang dapat menimpa mereka jika identitas itu diketahui.

Sumber: Der Spiegel International

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy