Harga Batu Bara Newcastle Naik Empat Pekan Beruntun ke US$155 per Ton

Harga Batu Bara Newcastle Naik Empat Pekan Beruntun ke US$155 per Ton

Ekonomi

Harga batu bara Newcastle ditutup di US$155 per ton pada 23 Oktober 2026, naik 0,26 persen dan memperpanjang kenaikan menjadi empat pekan.

Harga batubara Newcastle mencatat kenaikan selama empat pekan beruntun. Permintaan energi di Asia serta ketidakpastian pasokan masih menopang pasar, kendati laju penguatannya mulai mengendur.

Kontrak NCFMc2 ditutup pada US$155 per ton pada Jumat (23/10/2026), bertambah US$0,40 atau 0,26 persen dibandingkan posisi akhir pekan sebelumnya yang berada di US$154,60.

Tambahan itu jauh lebih kecil daripada kenaikan 2,72 persen pada pekan sebelumnya. Sepanjang pekan, harga sempat menyentuh penutupan US$156,05 pada Senin, lalu terkoreksi ke US$152,50 pada Rabu, sebelum kembali pulih dalam dua hari perdagangan terakhir.

Pola tersebut memperlihatkan pembelian masih muncul setiap kali harga melemah. Namun, pasar belum memperoleh dorongan yang cukup kuat untuk menembus posisi awal pekan, sehingga ruang penguatan pada pekan ini menyempit dibanding pekan sebelumnya.

India kekurangan stok, tetapi mengutamakan pasokan domestik

Persediaan pembangkit listrik di India kembali menjadi sorotan. Reuters melaporkan 96 dari 191 pembangkit memiliki stok batubara dalam kondisi kritis per 19 Oktober, bertambah dari 60 pembangkit pada pertengahan September. Persediaan tersebut hanya cukup untuk menghasilkan listrik kurang dari tiga hari.

Cuaca panas mendorong kebutuhan listrik naik, sementara curah hujan yang rendah menekan produksi pembangkit hidro. Pembangkit batubara pun harus menutup kekurangan itu sehingga kebutuhan bahan bakar tetap tinggi.

Meski demikian, kondisi tersebut belum serta-merta memicu lonjakan impor. Bloomberg melaporkan pemerintah India menangguhkan rencana kewajiban pencampuran batubara impor karena harga internasional yang tinggi dan pelemahan rupee memperbesar biaya pembelian.

Pemerintah memilih mendorong produksi Coal India dan mempercepat pengiriman melalui kereta. Pada 22 Oktober, pejabat Kementerian Ketenagalistrikan India menyebut pasokan ke pembangkit telah mencapai rekor 2,6 juta ton per hari dan memperkirakan kondisi segera normal.

Artinya, kebutuhan mengisi stok masih membuka peluang permintaan tambahan. Besarnya pembelian impor akan bergantung pada kemampuan pasokan domestik memenuhi kebutuhan pembangkit.

Jepang dan Korea Selatan menambah dukungan

Fitch Ratings dalam laporan 19 Oktober menyoroti peralihan penggunaan gas ke batubara di Jepang dan Korea Selatan akibat gangguan pasar energi Timur Tengah.

Kondisi itu membantu menjaga permintaan, terutama untuk batubara berkalori tinggi. Pengisian persediaan menjelang musim dingin juga diperkirakan menopang harga dalam beberapa bulan mendatang.

Pengiriman dari Indonesia masih terkendala

Dari sisi pasokan, Indonesia menghadapi ketidakpastian kuota produksi dan kebijakan ekspor. Kekeringan yang menurunkan permukaan air Sungai Barito turut membatasi pengangkutan menggunakan tongkang.

Laporan yang dipublikasikan APBI pekan ini menyebut ekspor batubara Indonesia melalui laut pada September turun 18,1 persen secara tahunan. Hambatan produksi dan pengiriman membuat ketersediaan pasokan ekspor sulit diprediksi.

Kondisi tersebut memang menopang harga internasional, tetapi sekaligus meningkatkan biaya dan menghambat penjualan produsen dalam negeri.

China menjadi penentu tekanan pasokan

Tekanan pasokan dapat mereda apabila produksi tambang di China kembali pulih setelah pemeriksaan keselamatan. Tambahan produksi domestik berpotensi mengurangi kebutuhan impor dan membatasi kenaikan harga.

Dengan demikian, arah harga batubara pada pekan-pekan berikutnya akan ditentukan oleh kombinasi permintaan energi Asia, kondisi stok pembangkit di India, peralihan bahan bakar di Jepang dan Korea Selatan, serta hambatan pengiriman dari Indonesia.

Sumber: CNBC Indonesia

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy