UNM Tekankan Problem Solving bagi Mahasiswa Sejak Masa Kuliah

UNM Tekankan Problem Solving bagi Mahasiswa Sejak Masa Kuliah

Pendidikan

Universitas Nusa Mandiri menekankan problem solving mahasiswa UNM diasah lewat studi kasus, proyek kelompok, dan organisasi sejak masa kuliah.

JAKARTA ΓÇö Universitas Nusa Mandiri (UNM) menekankan pentingnya penguasaan kemampuan memecahkan masalah atau problem solving bagi mahasiswa selama masa kuliah. Langkah itu dinilai krusial untuk membekali generasi muda sebelum terjun menghadapi dinamika di lingkungan kerja profesional.

Sebagai Kampus Digital Bisnis, UNM terus memfasilitasi pengembangan kompetensi tersebut melalui sejumlah metode pembelajaran. Pendekatan yang dipakai antara lain pembelajaran berbasis studi kasus, proyek kelompok, hingga kegiatan organisasi yang diikuti mahasiswa.

Selain itu, aktivitas riset dan diskusi interaktif dirancang agar mahasiswa terbiasa mengolah data serta menganalisis situasi secara sistematis. Melalui rangkaian kegiatan itu, mahasiswa dilatih tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengolah informasi dan menelaah persoalan yang dihadapi.

Metode pembelajaran yang diterapkan

Pengembangan kemampuan problem solving di UNM dijalankan melalui beberapa jalur kegiatan:

  • Pembelajaran berbasis studi kasus, sebagai sarana bagi mahasiswa untuk mengolah data dan menelaah persoalan yang dihadapi.
  • Proyek kelompok, yang memberi pengalaman bekerja dalam tim untuk menyelesaikan tugas bersama.
  • Kegiatan organisasi, sebagai ruang latihan menghadapi persoalan di luar kegiatan kelas.
  • Aktivitas riset dan diskusi interaktif, yang membiasakan mahasiswa menganalisis situasi secara sistematis.

Diasah melalui pengalaman nyata

Marketing Communication UNM Kampus Jatiwaringin, Sofian Wira Hadi, menyampaikan bahwa kemampuan analisis dan penyelesaian masalah tidak muncul secara instan. Menurutnya, kemampuan tersebut harus diasah melalui pengalaman nyata di lapangan.

"Mahasiswa perlu terbiasa menghadapi persoalan dan mencari solusi secara sistematis. Proses tersebut akan membantu mereka memahami bahwa sebuah masalah dapat dilihat dari berbagai sudut pandang sebelum menentukan langkah penyelesaian," katanya dalam rilis yang diterima, pada Ahad (25/10/2026).

Ia menambahkan, kegagalan atau kesalahan dalam proses belajar merupakan hal yang wajar. Kekeliruan itu, ujarnya, justru menjadi bahan evaluasi yang berharga bagi mahasiswa dalam mengasah cara berpikir.

Melalui proses uji coba dan identifikasi kendala, mahasiswa terlatih untuk berpikir lebih kritis dan terstruktur. Latihan tersebut juga membiasakan mereka bertanggung jawab terhadap setiap keputusan yang diambil, termasuk ketika langkah yang dipilih belum memberi hasil sesuai harapan.

Dalam rilis itu, Sofian menegaskan bahwa kemampuan analisis tidak tumbuh dengan sendirinya. Mahasiswa perlu melewati proses mencoba, mengevaluasi kendala, hingga menemukan langkah penyelesaian yang lebih baik.

Modal menghadapi industri digital

Sofian berharap pola pikir analitis yang diasah selama perkuliahan menghasilkan lulusan yang adaptif dan tangguh.

"Pengasahan pola pikir analitis selama perkuliahan diharapkan mampu mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga adaptif dan tangguh di dunia kerja. Kesiapan ini menjadi modal utama bagi para mahasiswa UNM dalam menjawab berbagai tantangan industri digital di masa depan," ujarnya.

Menurut Sofian, kesiapan tersebut menjadi modal utama bagi mahasiswa UNM untuk menjawab berbagai tantangan industri digital di masa depan. Sebab itu, kemampuan memecahkan masalah perlu dilatih sejak masa kuliah, bukan hanya menjelang lulus.

Sumber: Republika

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy