PLTS Terapung Cirata, Pembangkit Surya Apung Terbesar di Asia Tenggara

PLTS Terapung Cirata, Pembangkit Surya Apung Terbesar di Asia Tenggara

Nasional

PLTS Terapung Cirata di Waduk Cirata, Jawa Barat, berkapasitas 192 MWp dan berstatus sebagai pembangkit surya apung terbesar di Asia Tenggara serta ketiga di dunia.

PLTS Terapung Cirata membentang di atas Waduk Cirata, Jawa Barat. Pembangkit listrik tenaga surya terapung ini resmi beroperasi setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 9 November 2023.

Infrastruktur energi terbarukan tersebut menyandang status sebagai PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara dan ketiga di dunia. Lokasi instalasinya mencakup tiga kabupaten sekaligus, yaitu Purwakarta, Cianjur, dan Bandung Barat.

Pembangunan pembangkit ini disebut sebagai wujud komitmen Indonesia dalam mempercepat transisi energi menuju emisi nol bersih.

Perjalanan panjang sejak 2012

Mengutip ANTARA, gagasan membangun PLTS terapung di Waduk Cirata mulai dijajaki oleh anak usaha PLN sejak tahun 2012. Rencana tersebut sempat tertunda cukup lama karena keterbatasan teknologi pada masa itu.

Titik terang terbuka pada tahun 2017 ketika pemerintah aktif menjajaki kerja sama pengembangan energi bersama Uni Emirat Arab. Kolaborasi itu berlanjut melalui penandatanganan kontrak jual-beli listrik pada Januari 2020 di Abu Dhabi bersama Masdar.

Proyek ini dijalankan oleh konsorsium PT Pembangkitan Jawa-Bali Masdar Solar Energy dengan komposisi saham 51 persen PLN Nusantara Renewables dan 49 persen Masdar. Konstruksi fisik dimulai pada akhir 2020 dan berhasil diselesaikan dengan baik meski sempat menghadapi tantangan pandemi.

Megaproyek ini menelan investasi sekitar 1,7 triliun rupiah atau setara 140 juta dolar AS. Pendanaannya disokong oleh sindikasi bank internasional terkemuka, seperti Sumitomo Mitsui Banking Corporation, Societe Generale, dan Standard Chartered.

Kapasitas 192 MWp untuk sistem Jawa-Bali

PLTS Terapung Cirata dibangun dengan kapasitas puncak mencapai 192 megawatt peak (MWp) atau setara 145 MW alternating current. Melalui kapasitas terpasang tersebut, pembangkit terapung ini mampu memproduksi listrik bersih rata-rata 245 juta kWh per tahun.

Daya listrik yang diproduksi disalurkan langsung secara on-grid ke sistem transmisi 500 kV Jawa-Bali. Pasokan energi hijau tersebut sanggup mencukupi kebutuhan konsumsi listrik untuk lebih dari 50 ribu rumah tangga.

Secara teknis, instalasi masif ini terbagi ke dalam 13 blok atau pulau apung yang tertata kokoh. Rangkaian belasan pulau apung itu menopang lebih dari 340 ribu modul panel surya modern di atas permukaan air.

Selain memasok listrik, pembangkit surya ini berkontribusi langsung memangkas emisi karbon hingga mencapai 214 ribu ton CO2 per tahun. Tarif listrik yang disepakati dengan PLN sekitar 5,8 sen dolar AS per kWh melalui kontrak berdurasi 25 tahun.

Pendingin alami dan sinergi dengan PLTA Cirata

Penempatan modul surya di atas air memberikan keuntungan berupa efek pendinginan alami dari suhu waduk dan hembusan angin. Kondisi operasional yang sejuk ini mendongkrak efisiensi daya sekaligus memperpanjang usia pakai panel surya.

PLTS terapung ini juga bekerja bersama PLTA Cirata yang berkapasitas 1.008 megawatt. Saat musim kemarau dan debit air waduk menyusut, PLTS justru memproduksi energi puncak berkat paparan sinar matahari yang melimpah.

Keberadaan panel surya di atas air juga terbukti efektif menekan laju penguapan air waduk selama musim kering. Instalasi raksasa ini hanya memakai ruang sekitar 200 hingga 250 hektare, atau empat persen dari luas Waduk Cirata.

Selama proses konstruksi berjalan, sekitar 1.400 tenaga kerja lokal dilibatkan secara aktif.

Sumber: Good News From Indonesia

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy