Tutup botol hanyut dari Filipina bawa 307 makhluk hidup ke Jepang

Tutup botol hanyut dari Filipina bawa 307 makhluk hidup ke Jepang

Internasional

Tutup botol yang hanyut dari Filipina ke Jepang membawa 307 makhluk hidup, menunjukkan sampah laut dapat mengangkut spesies invasif.

Sebuah tutup botol yang terapung di lepas pantai barat Jepang ditemukan membawa ekosistem mini berisi 307 makhluk hidup yang berasal dari perairan dekat Filipina. Temuan itu merupakan hasil riset para peneliti Jepang yang dipimpin Universitas Nagoya.

Tutup botol tersebut ditemukan di lepas pantai Prefektur Kochi pada Januari 2023. Tim riset menduga benda itu terbawa arus Kuroshio selama sedikitnya 70 hari. Kuroshio merupakan arus laut hangat yang mengalir ke utara di barat laut Samudra Pasifik Utara.

Menurut tim riset, tutup botol itu menempuh perjalanan panjang dari perairan di sekitar Filipina sebelum akhirnya ditemukan di lepas pantai Jepang.

Riset tersebut melibatkan tim peneliti dari Universitas Kyoto dan beberapa lembaga lain, salah satunya Badan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelautan dan Bumi Jepang (JAMSTEC).

Menurut para peneliti, temuan itu menunjukkan bagaimana potongan kecil sampah laut dapat mengangkut spesies invasif melintasi jarak yang sangat jauh. Sejumlah spesies yang ditemukan di dalam tutup botol tersebut bahkan tidak ditemukan di Jepang.

Sarang cacing di dalam tutup botol

Tutup botol itu berdiameter 3,5 sentimeter. Meski berukuran kecil, benda tersebut menjadi tempat tinggal bagi seekor cacing laut ragworm sepanjang sembilan sentimeter yang telah membangun sarang rumit dari lendir dan kerikil.

Sarang buatan cacing itu kemudian menjadi tempat tinggal bagi 306 makhluk lain. Dengan demikian, total makhluk hidup yang tercatat di dalam tutup botol mencapai 307.

Makhluk lain yang menempati sarang tersebut antara lain:

  • foraminifera
  • teritip
  • bryozoa
  • cacing pipih

Menurut tim peneliti, keberadaan spesies pesisir dan laut lepas itu menunjukkan bahwa tutup botol tersebut telah hanyut melintasi perairan dekat pantai maupun di laut lepas. Keberagaman penghuni itu juga menjadi penanda bahwa benda kecil tersebut berada di lebih dari satu jenis perairan selama perjalanannya.

Label minuman dari Filipina

Label sebuah perusahaan minuman Filipina menempel pada tutup botol tersebut. Label itu mengindikasikan bahwa tutup botol telah dibuang di dalam atau di sekitar negara di Asia Tenggara tersebut. Petunjuk itu menjadi dasar bagi peneliti untuk menelusuri perjalanan benda tersebut sebelum ditemukan di Jepang.

Analisis isotop dan simulasi arus laut

Untuk menelusuri asal tutup botol, tim peneliti melakukan analisis rasio isotop oksigen pada cangkang foraminifera. Teknik itu digunakan untuk merekonstruksi suhu air di masa lampau berdasarkan komposisi kimia cangkang. Analisis tersebut dilakukan bersama dengan simulasi arus laut.

Hasilnya, tutup botol tersebut telah melewati perairan yang lebih hangat di sekitar kepulauan tersebut. Menelusuri rute semacam itu dapat membantu mengidentifikasi bagaimana spesies invasif memasuki lingkungan baru dan cara mencegahnya, kata para peneliti.

Pesan peneliti

Naoto Jimi dari Laboratorium Biologi Kelautan Sugashima di Universitas Nagoya, Toba, Prefektur Mie, mengingatkan bahwa sampah sekecil apa pun tidak boleh dianggap remeh.

"Bahkan, sampah sekecil tutup botol pun tidak boleh dianggap remeh. Membuangnya dengan benar ke tempat sampah membantu melindungi ekosistem," kata Naoto Jimi.

Menurut Jimi, membuang sampah dengan benar ke tempat sampah merupakan salah satu cara untuk membantu melindungi ekosistem.

Temuan ini memperlihatkan bahwa benda sekecil tutup botol dapat menjadi sarana perpindahan makhluk hidup dari satu perairan ke perairan lain, termasuk spesies yang tidak ditemukan di perairan setempat. Karena itu, penanganan sampah dengan benar disebut berperan penting dalam melindungi ekosistem laut.

Penerjemah: Fransiska Ninditya

Sumber: Antara Terkini

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy