Iran Ancam Serang Fasilitas Negara Teluk, Ini Perbandingan Kekuatan Militer

Iran Ancam Serang Fasilitas Negara Teluk, Ini Perbandingan Kekuatan Militer

Internasional

Iran mengancam menyerang fasilitas minyak, pusat data, hingga kabel bawah laut di negara Teluk. Berikut perbandingan kekuatan militer Iran dengan negara-negara GCC.

Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Iran mengancam akan menyerang sejumlah fasilitas penting di negara-negara Teluk apabila Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali melancarkan serangan terhadap wilayahnya.

Ancaman tersebut tidak hanya menyasar fasilitas minyak dan energi, tetapi juga pusat data, jaringan kabel bawah laut, hingga fasilitas kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Mengutip The Guardian, Kamis (22/10/2026), Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei memperingatkan bahwa serangan balasan Iran dapat menjangkau hingga tujuh negara di kawasan Teluk jika perang kembali pecah.

Peringatan serupa disampaikan Mehdi Mohammadi, penasihat Mohammad Ghalibaf, yang sebelumnya terlibat dalam perundingan Iran dengan Amerika Serikat. Menurut Mohammadi, perang berikutnya akan menjadi ancaman besar bagi keberadaan Iran sehingga Teheran tidak akan lagi membatasi sasaran maupun wilayah serangan balasannya.

"Strategi kami adalah tidak ada batasan," ujar Mohammadi, sebagaimana dikutip The Guardian.

Ancaman itu muncul di tengah kembali meningkatnya ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel. Kawasan Teluk merupakan salah satu pusat produksi minyak dan gas terbesar di dunia, sehingga perluasan perang berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Perbandingan kekuatan militer

Berdasarkan laporan Global Firepower Military Strength Ranking 2026, Iran masih menjadi salah satu negara dengan kekuatan militer terbesar di Timur Tengah. Iran menempati peringkat ke-16 dunia dari total 145 negara yang masuk dalam penilaian kekuatan militer pada 2026.

Posisi itu lebih tinggi dibandingkan seluruh negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC), termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Arab Saudi berada di peringkat ke-25 dunia, Irak ke-44, dan UEA ke-54. Adapun Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman berada di luar 70 besar negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia.

Global Firepower menggunakan lebih dari 60 indikator untuk membandingkan kekuatan militer berbagai negara, mulai dari jumlah tentara, pesawat militer, tank, kapal perang, anggaran pertahanan, hingga kemampuan mendukung kebutuhan logistik militer. Seluruh indikator itu dihitung menjadi satu skor bernama Power Index (PwrIndx), dan semakin kecil skornya, semakin tinggi peringkat suatu negara.

Iran memiliki skor 0,3199, lebih baik dibandingkan Arab Saudi sebesar 0,4473 dan Irak sebesar 0,8115. Meski demikian, peringkat militer yang lebih tinggi bukan berarti suatu negara pasti memenangkan perang, karena hasil peperangan juga dipengaruhi strategi, teknologi persenjataan, kesiapan tentara, hingga bantuan militer dari negara lain.

Jumlah tentara, pesawat tempur, dan tank

Dari sisi jumlah personel, Iran memiliki sekitar 610.000 tentara aktif, jauh lebih banyak dibandingkan Arab Saudi yang memiliki 247.000 tentara. Irak berada di bawahnya dengan 193.000 tentara aktif, sedangkan Oman tercatat memiliki sekitar 100.000 tentara.

Kondisi berbeda terlihat pada kekuatan udara. Arab Saudi memiliki 917 pesawat militer, sedangkan Iran 551 unit. Untuk pesawat tempur, Arab Saudi mencatat 283 unit, lebih banyak dibandingkan Iran yang memiliki 188 unit.

Iran unggul dalam kekuatan darat dengan 2.675 tank, jauh lebih banyak dibandingkan Arab Saudi yang memiliki 1.085 unit maupun Irak sebanyak 1.188 unit. Sementara itu, UEA yang berada di peringkat ke-54 dunia tercatat memiliki 581 pesawat militer, sedikit lebih banyak dibandingkan Iran. Qatar memiliki 115 pesawat tempur meskipun jumlah tentara aktifnya jauh lebih sedikit dibandingkan Iran.

Jika jumlah pesawat tempur enam negara anggota GCC digabungkan, totalnya mencapai 601 unit atau lebih dari tiga kali lipat jumlah pesawat tempur Iran. Namun, angka tersebut hanya merupakan penjumlahan persenjataan yang dimiliki masing-masing negara, sehingga tidak berarti seluruh pesawat tempur negara-negara Teluk dapat langsung digunakan secara bersama-sama jika perang benar-benar terjadi.

Kapal selam Iran dan anggaran militer Arab Saudi

Iran juga memiliki persenjataan yang cukup besar untuk pertempuran di laut. Global Firepower mencatat Iran memiliki 109 aset armada laut, termasuk 25 kapal selam, tujuh kapal fregat, dan tiga kapal korvet. Tujuh negara pembanding dalam daftar tersebut tidak memiliki kapal selam yang tercatat dalam data Global Firepower 2026.

Keberadaan kapal selam menjadi salah satu keunggulan Iran, terutama karena negara itu berada di tepi Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas dunia. Meski demikian, kekuatan angkatan laut tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kapal perang, tetapi juga jenis persenjataan, kemampuan teknologi, serta kesiapan armada.

Arab Saudi memiliki keunggulan yang sangat besar dalam hal anggaran militer. Global Firepower memperkirakan anggaran pertahanan Arab Saudi mencapai US$63,99 miliar, hampir tujuh kali lipat dibandingkan Iran yang sebesar US$9,23 miliar. UEA juga memiliki anggaran militer lebih besar dibandingkan Iran, yakni US$23,48 miliar, begitu pula Qatar dengan US$11,95 miliar.

Jika anggaran militer enam negara anggota GCC digabungkan, jumlahnya mencapai sekitar US$116,77 miliar atau lebih dari 12 kali lipat anggaran pertahanan Iran. Perbandingan ini menunjukkan negara-negara Teluk memiliki kemampuan keuangan besar untuk membeli persenjataan, mengembangkan teknologi militer, maupun membiayai kebutuhan pertahanannya. Namun, anggaran militer yang lebih besar tidak selalu berarti jumlah tentara dan persenjataannya juga lebih banyak.

Apa artinya jika perang kembali pecah

Iran memiliki sejumlah keunggulan dalam kekuatan militer, khususnya dari sisi jumlah tentara aktif, tank, dan kapal selam. Sementara itu, Arab Saudi dan sejumlah negara Teluk lainnya unggul dari sisi anggaran pertahanan serta jumlah pesawat militer.

Jika kekuatan tujuh negara pembanding digabungkan, jumlah tentara aktif mereka mencapai sekitar 728.000 orang, dengan 2.519 pesawat militer dan 3.470 tank. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan persenjataan Iran dalam beberapa kategori.

Namun, angka-angka itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa negara-negara Teluk memiliki kekuatan militer gabungan yang siap digunakan untuk menghadapi Iran, karena setiap negara memiliki kepentingan, strategi, serta kebijakan pertahanan masing-masing.

Selain itu, ancaman kali ini tidak hanya berkaitan dengan pertempuran antar tentara maupun penggunaan pesawat dan kapal perang. Iran juga mengancam akan menyerang fasilitas minyak, pusat data, jaringan kabel bawah laut, dan berbagai infrastruktur penting lainnya di kawasan Teluk.

Jika ancaman itu benar-benar dilakukan, dampaknya dapat meluas hingga mengganggu kegiatan ekonomi, pasokan energi, dan kehidupan masyarakat di negara-negara yang terkena serangan. Gangguan terhadap fasilitas energi maupun jalur pengiriman minyak dari kawasan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan menambah tekanan terhadap perekonomian global.

Dengan demikian, meskipun Global Firepower menempatkan Iran di atas masing-masing negara Teluk dalam peringkat kekuatan militer dunia, hal itu tidak berarti Iran pasti unggul jika perang benar-benar pecah. Apalagi jika Amerika Serikat dan Israel ikut terlibat langsung, perbandingan kekuatan militer di kawasan akan menjadi jauh lebih rumit.

Sumber: CNBC Indonesia

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy