Singapura Sebut Pemangkasan Ekspor Gas RI Kurang dari 2% Kebutuhan

Ekonomi
Singapura Sebut Pemangkasan Ekspor Gas RI Kurang dari 2% Kebutuhan

Singapura menyebut pemangkasan ekspor gas RI sebesar 31 bbtud hanya kurang dari 2 persen dari kebutuhan gas hariannya yang melampaui 1.000 bbtud.

Otoritas Pasar Energi Singapura (Energy Market Authority/EMA) angkat bicara soal keputusan pemerintah Indonesia memangkas ekspor gas bumi ke Singapura. Juru bicara EMA menyatakan pengurangan pasokan dari Indonesia itu hanya kurang dari 2 persen dari total kebutuhan gas harian Singapura.

Pernyataan tersebut disampaikan menjawab pertanyaan media, seperti dikutip CNA. Adapun total pengurangan yang dimaksud sebesar 31 juta kaki kubik standar gas per hari (bbtud).

"Ini kurang dari 2% dari total kebutuhan gas harian kami yang melampaui 1.000 bbtud," ujar juru bicara EMA.

Dalam pernyataannya, EMA juga menyebut memahami bahwa para importir akan menempuh segala upaya hukum yang relevan dalam kontrak mereka terkait gangguan pasokan gas tersebut.

EMA siapkan rencana darurat

Lembaga tersebut menyatakan telah menyiapkan rencana darurat untuk mengantisipasi pengurangan pasokan gas dari Indonesia. EMA menjelaskan, dalam beberapa bulan terakhir terjadi pengurangan berkisar antara 20 bbtud hingga 100 bbtud akibat pemeliharaan terencana maupun mendesak.

Menurut EMA, pengurangan dengan rentang tersebut dapat digantikan dari sumber gas lain tanpa kendala. Singapore GasCo disebut siap secara operasional untuk mengimpor lebih banyak gas alam cair kapan saja.

"Pengurangan tersebut tergantikan dari sumber gas lain tanpa kendala. Singapore GasCo siap secara operasional untuk mengimpor lebih banyak gas alam cair kapan saja," ujar EMA.

EMA menegaskan Singapura tidak hanya mengimpor gas alam dari Indonesia, tetapi dari berbagai sumber di dunia. "Selain dari Indonesia, Singapura mengimpor gas alam dari berbagai sumber di dunia," tambahnya.

Selain itu, menurut EMA, perusahaan pembangkit listrik diwajibkan memelihara cadangan bahan bakar pembangkit yang memadai, termasuk cadangan minyak solar.

"Perusahaan pembangkit listrik juga diwajibkan memelihara cadangan bahan bakar pembangkit yang memadai, termasuk cadangan minyak solar. Oleh karena itu, kami memiliki pasokan energi yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan nasional," ujar EMA.

SKK Migas pangkas pasokan dari Natuna dan Sumatra

Dari sisi Indonesia, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) resmi memangkas volume ekspor gas bumi ke Singapura per hari Sabtu (24/10/2026). Pemangkasan pengiriman gas dilakukan dari dua titik pasokan utama, yakni wilayah Natuna dan Sumatra, melalui pipa.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto membeberkan rincian pengurangan pasokan gas ke Singapura. Alokasi dari wilayah Natuna dipangkas sebesar 15 BBTUD, sedangkan dari Sumatra sebesar 16 BBTUD.

Dengan keputusan itu, ekspor gas Indonesia ke Singapura secara total dipangkas sebesar 31 BBTUD. Angka itu sama dengan total pengurangan yang menjadi dasar tanggapan EMA, atau kurang dari 2 persen dari kebutuhan harian Singapura yang melampaui 1.000 bbtud.

"Mulai besok (Sabtu, 23/10/2026, hari ini), kita kurangi (ekspor) gas ke Singapura dari Natuna 15 BBTUD, dari Sumatra 16 BBTUD," ujar Djoko saat ditemui di sela acara Subroto Awards 2026 Kementerian ESDM, di The Westin, Jakarta, Jumat (23/10/2926) malam.

Pemangkasan berlaku mulai Sabtu (24/10/2026), setelah diumumkan pada Jumat (23/10/2026) malam di Jakarta. Sementara itu, EMA memastikan pasokan energinya tetap mencukupi untuk memenuhi kebutuhan nasional Singapura.

Sumber: CNBC Indonesia

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy