Merawat Tradisi Ngelawar lewat Parade Sekaa Teruna di Jelajah Pesona Sumerta #2

Merawat Tradisi Ngelawar lewat Parade Sekaa Teruna di Jelajah Pesona Sumerta #2

Gaya Hidup

Parade ngelawar pada hari kedua Jelajah Pesona Sumerta #2 di Art Centre Denpasar menjadi cara mengenalkan kembali tradisi tetandingan lawar bebayuhan kepada Sekaa Teruna.

Lawar bukan hanya kuliner khas Bali yang biasa hadir dalam berbagai upacara adat. Di balik cara pembuatannya tersimpan tata cara, kebersamaan, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nilai-nilai itu coba dihidupkan lagi lewat parade ngelawar dalam Festival Seni Budaya Kelurahan Sumerta, Jelajah Pesona Sumerta #2, pada hari kedua, Sabtu (24/10/2026) sore di kawasan Taman Budaya Provinsi Bali (Art Centre), Denpasar.

Ketua Panitia Jelajah Pesona Sumerta #2, I Made Satria Dwi Arta, mengatakan parade ngelawar bukan sekadar ajang unjuk kepiawaian meracik lawar. Kegiatan itu, menurutnya, mengajak generasi muda mengenal tradisi tetandingan lawar bebayuhan, sebuah nilai budaya di Sumerta yang mulai jarang ditemui dalam kehidupan masyarakat.

Memperkenalkan kembali tata cara ngelawar

Satria menjelaskan, ngelawar sering dipahami hanya sebatas kegiatan mengolah bahan makanan menjadi lawar. Padahal di dalamnya ada tata cara dan tahapan yang punya makna tersendiri dalam kehidupan adat masyarakat Bali. Melalui parade, panitia ingin memperkenalkan kembali tata cara yang dahulu menjadi bagian dari tradisi tersebut.

ΓÇ£Kami ingin mengangkat tetandingan lawar bebayuhan kembali melalui parade ini. Harapannya, Sekaa Teruna yang terlibat setidaknya mengenal kembali bahwa ada tradisi itu, walaupun dalam praktiknya di masyarakat mungkin sudah mulai hilang,ΓÇ¥ ujar Satria, ditemui di sela acara.

Parade ini melibatkan Sekaa Teruna dari tujuh banjar di wilayah Kelurahan Sumerta, yang terdiri atas lima banjar adat dan dua banjar dinas. Keterlibatan mereka dinilai sebagai bagian penting dari upaya memperkenalkan kembali tradisi lokal melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

Tanpa juara, mengutamakan kebersamaan

Berbeda dari perlombaan pada umumnya, parade ngelawar tidak memakai sistem penentuan juara pertama, kedua, dan ketiga. Panitia lebih menekankan penampilan terbaik dengan mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari cita rasa, tampilan, kerapian, hingga kerja sama dan kebersamaan antaranggota Sekaa Teruna.

Bagi Satria, aspek kebersamaan tidak kalah penting dibanding hasil akhir lawar yang dibuat. Proses ngelawar memberi ruang bagi para pemuda untuk bekerja bersama sekaligus memahami nilai yang terkandung di dalamnya.

ΓÇ£Lawar sebagai kuliner khas Bali tidak hanya menonjolkan bagaimana cara membuat lawar itu sendiri. Esensinya adalah nilai-nilai yang terkandung dalam ngelawar. Ada proses dalam setiap tahapan pembuatannya,ΓÇ¥ katanya.

Parade ngelawar menjadi salah satu rangkaian Festival Seni Budaya Kelurahan Sumerta, Jelajah Pesona Sumerta #2 yang berlangsung selama dua hari, 23ΓÇô24 Oktober 2026. Festival tahun kedua ini mengusung tema Prabha Lango.

Beragam kegiatan dalam dua hari

Sejumlah kegiatan menyemarakkan festival, di antaranya:

  • Lomba gebogan janur
  • Kreasi bunga lokal
  • Busana adat ke pura
  • Parade ngelawar antarsekaa teruna
  • Lomba video kreatif
  • Lomba mewarnai
  • Baleganjur
  • Ogoh-ogoh mini yang diikuti peserta dari berbagai wilayah di Bali

Selain rangkaian lomba tersebut, festival juga menghadirkan bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pentas seni.

Pada hari terakhir, festival menampilkan sekaa gong dari kelompok PKK serta pertunjukan siswa-siswi TK dan SMP di Kelurahan Sumerta. Rangkaian kegiatan ditutup dengan garapan inaugurasi oleh Sekaa Gong Panca Yowana Kanti, perkumpulan sekaa teruna dari Penyatusan Abian Kapas, Ketapian.

Sumber: Nusa Bali

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy