Menag Nasaruddin Umar Dukung Gerakan Selasa Bersarung di Kemenag

Menag Nasaruddin Umar Dukung Gerakan Selasa Bersarung di Kemenag

Nasional

Menteri Agama Nasaruddin Umar mendukung gerakan Selasa Bersarung di Kemenag sebagai anjuran, bukan kewajiban, untuk merawat identitas budaya Nusantara.

JAKARTA ΓÇô Menteri Agama Nasaruddin Umar mendukung gagasan penggunaan sarung dan peci satu hari dalam sepekan di lingkungan Kementerian Agama. Gagasan itu diharapkan dapat merawat identitas budaya Nusantara sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap tradisi bangsa.

Dukungan tersebut disampaikan Nasaruddin saat membuka Festival Sarung dan Peci Santri 2026 di halaman Kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2026) malam. Kegiatan yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pesantren itu merupakan rangkaian peringatan Hari Santri 2026.

ΓÇ£Festival sarung dan peci ini sebetulnya harus menjadi sebuah kegiatan rutin di Kementerian Agama. Saya setuju kalau seandainya teman-teman sepakat, sekali seminggu kita pakai sarung dan peci,ΓÇ¥ ujar Nasaruddin dalam siaran persnya, Sabtu (24/10/2026).

Anjuran, bukan kewajiban

Meski menyatakan dukungan, Nasaruddin menegaskan bahwa penggunaan sarung dan peci tidak harus menjadi kewajiban. Penerapannya dapat berupa anjuran dengan tetap mempertimbangkan kondisi, kenyamanan, dan kebutuhan pegawai dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta itu menjelaskan, sarung mencerminkan kebersamaan, kesetaraan, dan kebebasan. Sementara itu, peci memiliki makna kehormatan, kewibawaan, serta identitas kebangsaan yang penggunaannya telah melampaui batas komunitas keagamaan.

Menurut Nasaruddin, gagasan satu hari bersarung juga terbuka bagi berbagai penyesuaian agar tradisi tersebut tetap berkembang mengikuti zaman.

ΓÇ£Kalau perlu, mungkin juga ada modifikasi-modifikasi tertentu supaya sarung itu berkembang menurut zaman. Siapa tahu ada kreasi-kreasi baru model sarung yang khas, model peci yang khas,ΓÇ¥ ucap Nasaruddin.

Usulan Selasa Bersarung

Gerakan ΓÇ£Selasa BersarungΓÇ¥ diusulkan Direktur Jenderal Pesantren Kemenag Basnang Said sebagai langkah konkret membudayakan penggunaan sarung di lingkungan kerja. Hari Selasa dipilih karena sarung dinilai cocok dipadukan dengan pakaian kerja berwarna putih yang biasa dikenakan pegawai.

ΓÇ£Semoga bisa kita anggap Selasa Bersarung. Kenapa? Karena kalau Selasa masih menggunakan baju putih, apa pun bentuk sarungnya tetap nyambung dengan bajunya,ΓÇ¥ kata Basnang.

Menurut Basnang, gerakan tersebut bukan sekadar perubahan cara berpakaian, melainkan juga upaya menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi pesantren. Ia menilai, sarung dan peci tidak semestinya dipandang sebagai simbol keterbelakangan karena ukuran modernitas seseorang terletak pada cara berpikir dan kontribusinya bagi masyarakat.

ΓÇ£Padahal, ukuran modern atau tradisional itu bukanlah terletak pada pakaian yang kita kenakan, melainkan pada cara berpikir dan cara kita memandang sesuatu,ΓÇ¥ jelasnya.

Membuka peluang industri kreatif

Melalui Festival Sarung dan Peci Santri 2026, Kemenag juga berupaya memperkenalkan keragaman busana tradisional Nusantara sekaligus membuka peluang pengembangan industri kreatif dan usaha dalam negeri.

Nasaruddin berharap, sarung dan peci tidak hanya menjadi warisan yang dibanggakan, tetapi juga terus dikembangkan agar tetap relevan bagi generasi mendatang.

Sumber: Republika

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy