Israel Gusur Warga Palestina di Hebron, Rumah Disita untuk Pos Militer

Israel Gusur Warga Palestina di Hebron, Rumah Disita untuk Pos Militer

Internasional

Israel menggusur warga Palestina di Hebron, Tepi Barat, dan menyita rumah untuk pos militer. Sejak Jumat, 293 keluarga atau 2.200 jiwa terusir.

Pasukan militer Israel (IDF) mengusir paksa warga Palestina dari kediaman mereka sendiri di Kota Hebron, Tepi Barat, lalu mengalihfungsikan bangunan rumah tersebut menjadi barak dan pos pengawasan militer. Pengusiran dan penyitaan rumah itu terjadi di tengah pengetatan blokade total serta operasi militer skala besar yang digelar tentara Israel di wilayah selatan Tepi Barat yang diduduki, sebagaimana dilaporkan kantor berita Palestina, Wafa.

Menurut sumber setempat, pasukan Israel mengambil alih permukiman warga di kawasan Khallat Manna dan Dahiyat al-Zaytoun untuk dijadikan barak tempur. Warga di sejumlah lingkungan lain juga dipaksa keluar dari rumah mereka supaya bangunan tersebut bisa difungsikan sebagai menara pemantau.

Pengambilalihan rumah warga di Hebron menambah rangkaian tindakan yang mempersempit ruang gerak warga Palestina di selatan Tepi Barat. Menurut laporan Wafa, penyitaan bangunan untuk keperluan militer itu berlangsung ketika tentara Israel mengencangkan blokade total dan menggelar operasi militer berskala besar di kawasan tersebut.

Dipicu serangan ke pangkalan militer

Langkah tersebut dipicu oleh pengetatan keamanan setelah insiden penyerangan ke pangkalan militer cadangan Israel pada Jumat (23/10) yang menewaskan dua tentara Israel. Dua pria Palestina yang dituduh sebagai pelaku serangan turut tewas di lokasi kejadian.

Ratusan keluarga terusir dari Hebron

Berdasarkan data Perhimpunan Tahanan Palestina (PPS), militer Israel telah menahan sedikitnya 47 warga Palestina dan mengusir paksa 293 keluarga yang mencakup sekitar 2.200 jiwa dari Hebron sejak Jumat lalu. Lembaga swadaya masyarakat itu merinci kelompok warga yang paling terdampak oleh pengusiran tersebut, mulai dari bayi hingga lansia.

"Warga yang terusir dari Hebron mencakup 127 bayi, 81 wanita hamil, 26 penyandang disabilitas, 134 penderita penyakit kronis, serta 265 lansia di atas usia 60 tahun," ungkap lembaga swadaya masyarakat tersebut, seperti dilansir Al Jazeera.

Pos pemeriksaan baru di Yatta

Pada waktu yang sama, pemukim ilegal Israel dilaporkan mulai mendirikan dua pos pemeriksaan baru di atas tanah milik warga Palestina di Kota Yatta, sebelah selatan Hebron. Aktivis lokal Osama Makhamra membeberkan bahwa para pemukim mendatangkan buldoser dan alat berat serta mendirikan tenda-tenda konstruksi di kawasan Khallet al-Fara dan gurun Yatta untuk menginstalasi jaringan air dan listrik secara ilegal.

Jalan utama ditutup di sekitar Bethlehem

Di dekat Bethlehem, pasukan Israel terus menutup jalan-jalan utama serta akses penghubung antardesa selama tiga hari berturut-turut hingga Minggu (25/10). Pasukan juga menutup jalur-jalur tanah alternatif menuju Kota Tuqu dan menembakkan gas air mata serta granat kejut ke arah kendaraan warga Palestina yang mencoba melintas.

Eskalasi menjelang Pemilu Israel

Eskalasi ketegangan di Tepi Barat itu meletus hanya beberapa hari menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) Israel. Kondisi tersebut terjadi di tengah maraknya aksi kekerasan pemukim ilegal Israel yang menyasar para petani Palestina saat musim panen zaitun.

Pengusiran di Hebron, pendirian dua pos pemeriksaan baru di Yatta, serta penutupan jalan di sekitar Bethlehem berlangsung dalam kurun yang berdekatan, di tengah pengetatan blokade total dan operasi militer Israel di wilayah selatan Tepi Barat yang diduduki.

Sumber: CNN Indonesia

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy