Trailer Dead Giveaway Tampilkan Mikaela Hoover dan Ruby Modine
HiburanTrailer Dead Giveaway menampilkan Mikaela Hoover dan Ruby Modine sebagai dua sahabat yang harus menutupi mayat sebelum brunch. Film ini tayang 3 November.
Ketua BPI Fauzan Zidni menilai industri film Indonesia kekurangan talenta perfilman, terutama penulis naskah, meski ribuan orang lulus sekolah film.
Ketua Badan Perfilman Indonesia (BPI) Fauzan Zidni mengakui industri film nasional masih kekurangan banyak talenta perfilman. Kekurangan itu terjadi meski setiap tahun ada ribuan orang yang lulus dari perguruan tinggi dan sekolah vokasi perfilman.
Menurut Fauzan, talenta yang paling dibutuhkan industri saat ini adalah penulis naskah. "Penulis naskah," kata Fauzan saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di sela acara Motion Picture Association (MPA): Indonesia Success Story pada Kamis (22/10). "Kita butuh lebih banyak orang-orang kompeten, penulis-penulis yang lebih kompeten."
Pernyataan itu disampaikan Fauzan ketika mengisi sesi panel bertajuk Building Capacity for the Future: Talent, Technology and Sustainable Growth in Indonesia's Screen Industry di acara tersebut. Dalam forum itu ia menyinggung banyaknya lulusan sekolah perfilman di Indonesia setiap tahun, belum termasuk orang-orang yang memiliki kemampuan dan belajar film secara informal.
Namun dari ribuan orang itu, Fauzan menyebut "tak sampai lima persen masuk ke industri." Ia lantas mengisahkan pengalamannya saat bekerja di Disney Indonesia beberapa tahun lalu. Ketika itu, ia sempat kebingungan mencari talenta lokal yang bersedia membuat konten untuk platform tersebut.
Fauzan menilai salah satu penyebabnya adalah industri film yang tidak terbuka. "Industri film itu tertutup, enggak pernah ada open recruitment. Berbeda kalau misal mau menjadi wartawan, kan ada open recruitment, tapi industri film enggak pernah melakukan itu," ujarnya.
Ia menjelaskan, produser biasanya hanya merekrut kepala-kepala departemen, lalu para kepala itu yang menyusun timnya sendiri. "Dia milih akhirnya kan juga memang yang punya kedekatan, senior-juniornya di kampus, dan sebagainya," kata Fauzan.
Kondisi tersebut membuat lebih banyak lulusan sekolah atau pendidikan perfilman bekerja di luar industri film, tetapi masih bersinggungan dengan kemampuan mereka, seperti media, agensi, atau bidang komunikasi.
Fenomena itu, ditambah pasar film yang terus berkembang serta dorongan produksi konten lokal yang meningkat, diduga turut menciptakan situasi Indonesia kekurangan talenta perfilman hampir di setiap sektor.
"Talentnya ada banyak cuma untuk technical department kayak DOP, artistic, kemudian semualah kayak editor, penulisan, segala macam itu kita butuh lebih banyak talent lagi," kata Fauzan.
Ia juga menyoroti kebutuhan sutradara dan produser. Menurut Fauzan, jumlah produser di Indonesia tidak tumbuh terlalu banyak. "Jadi semua ini, ya akhirnya dari talent manajemen yang kita butuhkan untuk lebih banyak lagi," lanjutnya.
Fauzan mengakui program magang yang digelar pemerintah beberapa tahun terakhir ikut membantu industri film merekrut tenaga baru. Namun, menurut dia, tidak banyak perusahaan film yang lolos standar untuk mengikuti program tersebut.
Ia memaparkan ada banyak faktor yang memengaruhi hal itu, terutama pemenuhan aturan ketenagakerjaan. Aturan itu membuat kebanyakan production house (PH) selain studio besar sulit bergabung dalam program tersebut.
Karena itu, BPI sebagai lembaga yang ikut merumuskan jalannya perfilman Indonesia mengusulkan sejumlah perubahan aturan ketenagakerjaan industri film dalam revisi UU Perfilman yang saat ini sedang digodok bersama Kementerian Kebudayaan. Beberapa hal yang akan diatur dalam RUU tersebut meliputi kewajiban dasar, pendidikan, peningkatan kompetensi, hingga perlindungan tenaga kerja film.
Selain melalui RUU, BPI berupaya meningkatkan kompetensi insan perfilman lokal dengan mencari dan mengajak mereka menempuh pelatihan atau pendidikan di negara yang ekosistem perfilmannya sudah terbangun.
Fauzan menyebut negara seperti Korea Selatan melalui badan perfilmannya memiliki program pelatihan atau kerja sama yang bisa diikuti insan film, dan selalu ada orang Indonesia yang ikut. "Cuma memang skalanya kalau itu kan sedikit ya, cuma satu atau dua saja lah," katanya.
Ia lantas menyinggung pengalaman generasi pendahulu yang membangun industri film dengan sekolah di luar negeri yang dibiayai negara. Menurut Fauzan, kini mekanisme pembiayaan itu berada di LPDP.
"Sekarang kita nyari muridnya yang mau kesana. Itu masalahnya, cari talentnya. Siapa yang mau sekolah? Karena [kebanyakan] inginnya syuting. Tapi kita tetap butuhnya [talenta] itu ditingkatkan jadi [misalnya menjadi] lulusan La Femis [Prancis], atau lulusan USC [School of Cinematic Arts Los Angeles]," ujar Fauzan.
Sumber: CNN Indonesia
Trailer Dead Giveaway menampilkan Mikaela Hoover dan Ruby Modine sebagai dua sahabat yang harus menutupi mayat sebelum brunch. Film ini tayang 3 November.
Mckenna Grace batal berfoto dengan King Kong di Times Square setelah tahu tarifnya 100 dolar, di sela promosi The Hunger Games: Sunrise on the Reaping.
All's Fair musim 2 tayang di Disney+ pada 4 November. Kim Kardashian dan Naomi Watts bicara soal perempuan yang saling menguatkan.
These cookies are essential for the website to function properly.
These cookies help us understand how visitors interact with the website.
These cookies are used to deliver personalized advertisements.