Anak Korban Bullying Butuh Didengar Orang Tua, Bukan Langsung Diberi Solusi

Anak Korban Bullying Butuh Didengar Orang Tua, Bukan Langsung Diberi Solusi

Gaya Hidup

Anak korban bullying butuh didengar dan dipercaya orang tua sebelum diberi solusi. UNICEF Indonesia menyarankan orang tua mendengarkan dengan tenang.

Perundungan yang dialami anak bukan sekadar persoalan dengan teman sebaya. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi rasa percaya diri, hubungan sosial, hingga kenyamanan anak ketika harus kembali ke sekolah.

Karena itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan ketika anaknya mengalami bullying dan apa yang sebenarnya dibutuhkan anak setelah mengalami perundungan.

Dengarkan cerita anak lebih dulu, jangan buru-buru memberi solusi

Ketika anak akhirnya berani bercerita, orang tua mungkin ingin segera mengetahui siapa pelakunya, apa penyebabnya, dan sudah berapa lama kejadian itu berlangsung. Informasi tersebut memang penting untuk menangani perundungan. Namun, pada percakapan pertama, orang tua perlu memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan pengalamannya tanpa merasa sedang diinterogasi.

UNICEF Indonesia menyarankan orang tua mendengarkan secara terbuka dan tenang. Fokus awal percakapan bukan mencari penyebab perundungan atau langsung menyelesaikan masalah, melainkan memastikan anak merasa didengar dan didukung.

Orang tua dapat memulai percakapan dengan pertanyaan sederhana, seperti:

  • apa yang terjadi;
  • bagaimana perasaan anak;
  • apakah anak khawatir kejadian itu akan terulang.

Pertanyaan yang terkesan menyalahkan sebaiknya dihindari. Misalnya, mempertanyakan mengapa anak tidak melawan atau apa yang telah dilakukannya hingga menjadi sasaran perundungan. Respons semacam itu berisiko membuat anak merasa dirinya ikut bertanggung jawab atas perlakuan yang diterimanya.

Rasa percaya diri, hubungan sosial, dan kenyamanan bersekolah merupakan tiga hal yang turut terpengaruh ketika seorang anak menjadi sasaran perundungan. Karena itu, cara orang tua menanggapi cerita anak pada percakapan pertama menjadi bagian dari dukungan yang dibutuhkan anak.

Yakinkan anak bahwa ia tidak bersalah

Setelah mendengarkan cerita anak, langkah berikutnya adalah memberikan dukungan emosional yang jelas. Anak perlu mengetahui bahwa orang tua mempercayainya, menghargai keberaniannya untuk bercerita, dan tidak menganggap pengalaman tersebut sebagai kesalahannya.

UNICEF menyarankan orang tua menyampaikan bahwa mereka akan berusaha membantu anak mendapatkan pertolongan. Hal ini penting karena anak yang mengalami bullying bisa merasa malu, takut, atau khawatir keadaan akan semakin buruk jika orang lain mengetahuinya.

Sebagian anak juga mungkin memilih diam karena takut dianggap lemah atau tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Alih-alih langsung memberi nasihat panjang, orang tua bisa mengatakan bahwa mereka percaya pada cerita anak dan akan menghadapi situasi tersebut bersama-sama.

Dukungan emosional itu tidak menuntut anak untuk langsung bisa menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Yang dibutuhkan anak adalah keyakinan bahwa orang tua memercayai ceritanya dan tidak menempatkan perundungan sebagai kesalahan pihak yang menjadi sasaran.

Dari saran UNICEF Indonesia tersebut, dua hal tampak menjadi penekanan dalam pendampingan awal anak korban perundungan: memastikan anak merasa didengar dan didukung, serta meyakinkan anak bahwa ia tidak bersalah. Keduanya menjadi dasar bagi orang tua sebelum melangkah ke penanganan perundungan lebih lanjut.

Sumber: CNN Indonesia

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy